Deteksii.com – SLEMAN – Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Lembaga Budaya Dinas Kebudayaan DIY Agus Suwarto, S.Sos mengatakan bahwa penerbitan buku Toponimi 54 Kampung Kalurahan Wedomartani menjadi yang pertama di DIY. Yang dimaksud dengan yang pertama bukan penulisan Toponimi tetapi keberanian Kalurahan Wedamartani menyusun dan berhasil menerbitkan Toponimi atas prakarsa sendiri.
“Biasanya penulisan Toponimi merupakan program dari dinas kebudayaan baik propinsi maupun Kabupaten,” ungkap Agus dalam acara bedah buku Toponimi dari Gebang Ke Gedongan arsip sejarah 54 dusun Kalurahan Wedomartani Senin 3 November 2025 berlangsung di Pendopo Kalurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
Selanjutnya Agus Suwarto menambahkan bahwa dalam proses penulisan Toponimi menjadi tidak mudah melibatkan 31 penulis untuk menampilkan sejarah penamaan dari 54 dusun yang ada di Kalurahan Wedomartani, yang mempunyai identitas masing-masing. Kondisi tersebut mendorong penulis saling mendorong bahu membahu secara gotong royong untuk menampilkan yang terbaik. Kesadaran itu berbekal dari rasa memiliki dan handarbeni merupakan tanggung jawab para penulis.
“Membaca buku ini merupakan daya tarik yang tersendiri, ketika mulai membaca seakan ada keharusan membaca sampai akhir.” Tambah Agus.
Kamituwo Kalurahan Wedomartani H. Mujiburokhman memberikan apresiasi yang tinggi kepada penulis dan pembimbing dari Pasbuja Kawi Merapi. Teriring ucapan terimakasih tidak terhingga atas segala upaya sehingga Toponimi arsip sejarah 54 dusun Kalurahan Wedomartani bisa terbit
“Terbitnya buku Toponimi merupakan kado indah hari jadi kalurah Wedomartani ke-79. Tepatnya tanggal 9 Nopember.” Tutur Mujib.
Munculnya gagasan pembuatan buku Toponimi 54 dusun Kalurahan Wedomartani berawal dari keresahan, mengingat bertambah usia narasumber yang mengetahui sejarah penamaan suatu dusun. Bahkan telah banyak narasumber yang meninggal. Sehingga para penulis dalam penelusuran dilapangan mengalami banyak dinamika terkait Narasumber. Ada yang sudah sepuh dan pikun, ada tokoh masyarakat yang tidak mengetahui sejarah penamaan. Meskipun ada pula yang merasa tahu tetapi mereka hanya memakai logika yang tidak pas dengan sejarah.
Menjadi tantangan tersendiri bagi penulis untuk memilih dan menemukan pendekatan lebih objektif.
“Maka kita seolah berlomba dengan waktu. Bila tertunda akan kehilangan narasumber sehingga objektifitas menjadi berkurang.” Jelasnya.
Dalam penggalian sejarah penamaan suatu daerah diperlukan dua narasumber. Salah satunya Narasumber sebagai orang yang mengetahui cerita sejarah dengan pendekatan yang obyektif. Yang kedua dari artefak baik tulisan atau benda peninggalan.
Kedua sumber kadang akan memberikan perbedaan pendapat sehingga menimbulkan versi yang berbeda.
“Disinilah kemampuan penulis diuji untuk menarik kesimpulan dari versi sejarah yang berbeda. Peran pembimbing dari Pasbuja menjadi sangat penting untuk membantu penulis menampilkan obyektivitas yang mendekati kebenaran.”
Kehadiran buku Toponimi sejarah ini bukan menutup kemungkinan untuk mengalami perbaikan. Bila muncul sanggahan atau didapatkan sumber bukti baru yang lebih akurat maka sejarah penulisan bisa berubah.
“Buku ini merupakan uji publik, menarik perhatian para pemerhati budaya untuk saling handarbeni. Bukan sebagai pemecah belah kehidupan masyarakat Wedomartani. Karena sejarah merupakan sesuatu yang dinamis.” Pungkasnya.
Narasumber lain Wiwien dosen program studi Sastra Jawa UGM menyampaikan bahwa penulisan Toponimi tidaklah mudah. Ada teori pendekatan yang bisa dipelajari yaitu literasi metodologi penulisan cerita lisan, bagaimana menentukan sumber cara menggali sejarah asal usul nama. “Penulisan Toponimi tidak akan pernah berhasil bila tradisi membaca tidak pernah dilakukan.” Tuturnya. (Kus)

+ There are no comments
Add yours