Pemkab Sleman Kirim Perdana 30 Ton RDF ke PT SBI Cilacap

Realisasi kerjasama dengan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) pada November lalu, Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan pengiriman perdana 30 ton refuse-derived fuel (RDF) ke PT SBI di Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (23/1/2024).

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan RDF yang terdiri atas 15 ton sampah organik dan 15 ton sampah anorganik ini dihasilkan dari pengolahan sampah di TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Tamanmartani, Kalasan, Sleman milik Pemkab Sleman.

Kustini berharap pengiriman perdana RDF ini dapat memotivasi Pemkab Sleman untuk lebih optimal dalam mengelola sampah di wilayahnya.

“Terlebih lagi wilayah Sleman ini berada di bagian hulu DIY harus menjaga kelestarian lingkungannya dari pencemaran,” kata Kustini sebelum pemberangkatan truk perdana di TPST Tamanmartani, Kalasan, Selasa (23/1/2024).

Operasional TPST Tamanmartani, lanjut Kustini, sudah dapat mengolah sampah dengan kapasitas 60 ton per hari dengan menghasilkan RDF kurang lebih 45 ton. Rinciannya, 20 ton RDF bersal dari sampah anorganik dan 25 ton RDF berasal dari sampah organik.

RDF tersebut bakal dikirim ke PT. SBI menggunakan berbagai alternatif moda transportasi, salah satunya kereta api dengan kapasitas 100 ton per hari untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara pada proses produksi semen SBI di Cilacap.

“Kami berharap pengiriman RDF dari TPST Tamanmartani dapat menjadi sebuah awal baru dari pengelolaan sampah di Kabupaten Sleman yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta mendukung terwujudnya visi Kabupaten Sleman,” terang Kustini.

Sementara itu Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia, Lilik Unggul Raharjo mengatakan kerja sama selama tiga tahun dengan Pemerintah Kabupaten Sleman ini tentunya semakin mempertegas komitmen SBI untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.

“Hari ini, kerja sama dengan Pemkab Sleman telah membuahkan hasil. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk terus membantu pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan sampah, termasuk di Sleman,” kata Lilik.

Selama ini, paparLilik, PT SBI telah menjalin kerja sama pengelolaan sampah dengan beberapa daerah seperti Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, DKI Jakarta dan pengelola sampah di Bali yang telah berjalan. Nantinya, kerja sama ini juga membantu SBI dalam peningkatan pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif untuk mencapai target penurunan emisi karbon yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dan kontribusi SBI untuk perwujudan pembangunan berkelanjutan melalui ekonomi sirkular.

“Pemanfaatan bahan bakar alternatif sebagai substitusi batu bara dalam proses produksi semen di SBI, dikelola oleh unit bisnis Nathabumi yang bergerak dalam bidang penyediaan solusi pengelolaan limbah dan sampah ramah lingkungan,” katanya.

Sementara Gubernur DIY yang diwakili oleh Sekda DIY, Beny Suharsono mengatakan agenda hari ini merupakan milestone penting bagi perwujudan komitmen bersama untuk memberi nilai baru kepada apa yang semula masuk ke dalam kategori sampah.

Tidak kalah penting adalah kesepakatan dan kesepahaman dalam 3R penanganan sampah (refuse, reduce, reuse) tetaplah merupakan solusi terbaik, dan harus dimulai di tataran individu atau rumah tangga. Sehingga ia pun berpesan agar Pemerintah di masing-masing Kabupaten/Kota juga mewujudkan terciptanya pergeseran pola pikir dan pola kebiasaan masyarakat kita tentang sampah.

“Besar harapan, agar kita semua dapat sepaham dan sepakat, bahwa proses pengolahan dan pemanfaatan RDF bukannya tanpa kelemahan. Dalam pengolahan dari sampah ke RDF misalnya, ada aspek dampak lingkungan yang perlu senantiasa disupervisi dan dievaluasi. Ini termasuk pula terkait jenis teknologi pengolahannya, apakah sudah memenuhi standar atau belum. Sehingga, mari kita semua jadikan kelemahan-kelemahan tersebut sebagai catatan mental bersama, sekaligus sebagai dasar untuk terus berinovasi,” pungkasnya. @Djat

You May Also Like

Rekomendasi untuk anda