Wayang, Dunia Simbolik Yang Membetot Imagi

Deteksii.com – SLEMAN – Sekian lama wayang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masarakat Jawa. Pesan yang ditabuh selalu membetot imaji khalayak massa . Dan kehadirannya yang sarat kreasi dan modifikasi semakin membuktikan dirinya sebagai elemen budaya yang tak lapuk dimakan zaman.

“Misteri itu pulalah yang menjadikan wayang sebagai karya eksotis, sebuah karya yang selalu menarik minat untuk terus digali,” papar praktisi dunia pewayangan (dalang) Ki Ir Hardjono Sudjanadi MM saat ditemui deteksii.com, pekan lalu.

Di mata Ki Hardjono, wayang adalah merupakan cermin dari keaneragaman karakter dan watak manusia. Karakter pada tokoh-tokoh dalam pewayangan itu mewakili karakter manusia. Tak heran kalau tokoh-tokoh wayang hampir selalu dijadikan tokoh idola demi pemenuhan kebutuhan identifikasi mereka. “Mengidentifikasikan tokoh tertentu itu sama halnya dengan upaya mengenali diri pribadi,” ungkapnya.

Masalah identifikasi terhadap tokoh wayang, jelas Ki Hardjono, bisa jadi hanya sebuah kewajaran, sebab orang butuh figur yang dijadikan hero bagi dirinya sendiri. Bahkan acapkali tokoh wayang tidak sekedar sebagai idola dan hero, tapi sebagai kultus. Taruhlah misalnya, kegemaran soeharto akan sosok Semar sebagai pamong rakyat, banyak disebut-sebut alat politik Soeharto memistifikasikan dirinya sebagai tokoh Semar.

Yang pasti, mengenali wayang berarti upaya membaca bayang-bayang. Banyak hal yang kabur dan tak terbaca. Saking peliknya, tak pelak lagi seringkali muncul nafsu memperalatnya untuk kepentingan tertentu. “Ujung-ujungnya, wayang kehilangan jati dirinya. Muatan simbolik dan filosofinya mengabur dan terkikis,” ujarnya.

Kendati begitu, Ki Hardjono optimis bakal menemukan formulanya tersendiri terkait masa depan dunia pewayangan. Menurutnya, sebagai wacana yang terbuka, khususnya muatan filosofis dan simboliknya yang kuat, menjadikan wayang terbuka pula untuk dimuati kepentingan-kepentingan tertentu. “Dipakainya wayang untuk kepentingan tertentu boleh-boleh saja. Asal pengemasannya bagus,” tandasnya.

Ki Hardjono menambahkan, ke depan agar wayang tak ditinggal penggemarnya, dalang disarankan harus mampu meramu lakon yang digelarnya. Di sinilah pentingnya sanggit (pasemon). Jadi tidak asal-asalan. .

Bagi Hardjono sepakat dengan pendapat mengenai perlunya reinterpretasi dunia pewayangan. Tapi baginya, yang terpenting adalah bahwa dunia pewayangan harus kembali ke pakemnya sendiri dulu.

“Tanpa ada proses penafsiran kembali, tak mungkin kita mencipta paradigma baru. Saya yakin, kalau hal itu dilakukan, penonton akan lebih tertarik. Tak sekedar cuma mau menonton goro-goro dan dagelan yang banyak dipakai dalang sekarang,” pangkas mantan pejabat teras di Kementrian Pekerjaan Umum (PU) -admin3

BalasTeruskan

You May Also Like

Rekomendasi untuk anda

+ There are no comments

Add yours