Menandai Dua Pekan Matinya Demokrasi Elektoral

Deteksii.com -YOGYAKARTA- Puncak Pemilu Presiden-Wakil Presiden dan Pemilu Legislatif 2024 telah usai, pasca hari pencoblosan tanggal 14 Februari 2024. Kami sepakat dengan pengamatan berbagai ahli dan lembaga demokrasi di dunia dan Indonesia bahwa Pemilu 2024 ini merupakan peristiwa politik terburuk sepanjang sejarah pasca reformasi 1998.

Indikasi buruknya pelaksanaan ritual lima tahunan ini sudah muncul sejak pencalonan anak Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai calon Wakil Presiden, didahului aksi intervensi politik terhadap Mahkamah Konstitusi.

Disusul aksi mobilisasi aparat penegak hukum, aparat birokrasi dan penggelontoran bantuan sosial untuk kepentingan pemenangan salah satu paslon sebagai puncak buruknya pelaksanaan Pemilu yang menimbulkan luka sangat mendalam.

Kami menilai Demokrasi sebagai kesepakatan publik telah mati di tangan Presiden Jokowi. Ini fakta pahit setelah Indonesia melewati 26 tahun reformasi. Pemilu 2024 menjadi sekedar demokrasi prosedural dan cacat. Pemilu hanya sebagai sarana legitimasi berlanjutnya kekuasaan otoriter, dinasti Jokowi.

Sejak awal ia dirancang sedemikian rupa sebagai upaya melanggengkan kepentingan elit oligarkis. Pada awalnya adalah wacana tiga periode melalui pemilu dan kemudian skenario perpanjangan masa jabatan Presiden tanpa Pemilu. Informasi ini muncul setelah konflik antara PDIP partai yang membesarkan Jokowi muncul. Tetapi besarnya penolakan masyarakat sipil dan tidak terkonsolidasi-nya elit politik memaksa Jokowi mengurungkan niat tersebut.

Namun, ternyata aksi politik brutal tak berhenti. Mahkamah Konstitusi mengalami intervensi sangat hebat, dan keputusan kontroversialnya telah meloloskan Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres Prabowo Subianto. Aksi ini divonis melanggar etik oleh MKMK, hingga akhirnya Anwar Usman, ipar Jokowi diberhentikan sebagai Ketua MK.

Perilaku buruk politik kekuasaan Jokowi tidak berhenti. Pasca pencalonan dengan merekayasa aturan, rezim politik di Jakarta menerapkan politik gentong babi, menerapkan guyuran bansos, mobilisasi kepala desa, penggunaan instrumen aparat kekuasaan negara, dan berbagai bentuk penyalahgunaan kewenangan lainnya yang dilakukan tanpa malu oleh Presiden Jokowi. Sedangkan lembaga penyelenggara pemilu baik KPU, Bawaslu, dan DKPP sama sekali tidak berdaya di hadapan kekuasaan.

Kesederhanaan hidup Jokowi dan keluarganya selama ini palsu. Istrinya, Iriana dan anak serta mantunya Selvi Ananda dan Eriana Gundono memamerkan kemewahan. Beberapa hari pasca pemungutan suara dan kemenangan sementara Prabowo-Gibran, partai politik yang tadinya berkompetisi mulai konsolidasi, tanpa memerhatikan ideologi kebangsaan. AHY, anak mantan Presiden SBY seorang pengarang buku “Pilpres 2024 dan Cawe-Cawe Presiden Jokowi”, menjadi pihak yang pertama mendapat kue kekuasaan setelah pemilu 2024 dengan diangkat menjadi Menteri ATR/Kepala BPN.

Sejauh yang dapat ditelusuri dalam riwayat hidup AHY, tidak ada pendidikan maupun pengalamannya terkait dengan pertanahan. Padahal demikian banyak masalah terkait pertanahan, mulai dari mandeknya agenda reforma agraria selama rezim Jokowi, maraknya perampasan tanah dan ruang hidup rakyat, hingga berbagai bentuk konflik agraria yang menyengsarakan rakyat.

Selain AHY, muncul nama Prabu Revolusi, seorang yang sempat menjadi bagian dari TKN Prabowo-Gibran diangkat menjadi Komisaris PT Kilang Pertamina. Istri Arief Rosyid, Siti Zahra Aghnia, Komandan Tim Fanta pemilih muda Prabowo, diangkat menjadi Komisaris PT Pertamina Patra Niaga.

Tidak jelas kompetensi dan pengalaman mereka di industri minyak dan gas bumi. Merit system dikesampingkan. Politik dagang sapi diutamakan. Tidak ada harapan dalam suatu urusan yang diserahkan bukan pada ahlinya.

Pemungutan suara sudah usai. Saat ini tinggal menunggu penetapan suara oleh KPU. Rakyat kembali sendiri, ditinggalkan. Sesaat setelah pemungutan suara, harga beras tampak melonjak drastis. Rakyat harus mengantri untuk mendapatkan beras murah. Fenomena ini susah untuk tidak mengaitkannya dengan Bansos ‘ugal-ugalan’ yang disalurkan Jokowi menjelang pemungutan suara.

Permasalahan yang dihadapi rakyat riil, tetapi tidak lagi menjadi perhatian para elit. Maka dibutuhkan oposisi di dalam dan di luar parlemen yang kuat dan konsisten. Secara ideal, peran oposisi seharusnya menjadi tugas bagi partai-partai yang kalah dalam Pemilu.

Mereka perlu sebagai pengimbang kekuasaan. Namun, tidak ada partai politik yang bisa diharapkan menjadi oposisi bermutu. Sejarah mencata, selama kurun 9 tahun terakhir ada dua partai politik di parlemen yng beroposisi. Sayangnya mereka tidak menjalankan fungsi sebagai oposisi dengan baik. Pada berbagai kesempatan mereka tidak berbeda dengan penguasa, seperti terlihat dalam revisi UU KPK, juga dalam pengesahan UU Cipta Kerja semua menyatakan setuju.

Atas berbagai persoalan di atas, maka Forum Cik Ditiro menyatakan hal-hal sebagai berikut:

Mencatat terjadinya kecurangan sistematik pada pelaksanaan semua tahapan Pemilu yang didesain dan dilakukan oleh Presiden Jokowi dan Parpol-kroni politiknya.
Menuntut lembaga-lembaga negara independen sesuai tugasnya seperti KPU, Bawaslu, Komisi Ombudsman, dll untuk mengusut semua kecurangan Pemilu, khususnya yang dilakukan Presiden Jokowi pada masa sebelum, pada saat, dan sesudah pemungutan suara.

Mendesak partai yang kalah dalam Pilpres 2024 ini untuk menjadi oposisi yang berpihak pada rakyat, konstitusi dan hak-hak asasi manusia, berani menggunakan hak angket dan berupaya mencari langkah politik memberikan penghukuman terhadap Jokowi yang terbukti mengkhianati reformasi 1998, melakukan praktek Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Menyerukan kepada aktivis masyarakat sipil untuk tidak menjadi bagian dari kekuasaan yang dipimpin pelanggar HAM dan kembalinya Suhartoisme.
Menyerukan kepada seluruh masyarakat sipil menjadi oposisi, setia kepada nilai-nilai kebenaran, anti korupsi, keadilan-kesetaraan, kerakyatan, perdamaian dan kemanusiaan serta terus berpihak pada kelompok-kelompok marjinal, terdiskriminasi dan tertindas. (Ded)

Hormat Kami
Forum Cik Ditiro
Kontak Person/Juru Bicara: Noviana/Sanaullaili

You May Also Like

Rekomendasi untuk anda

+ There are no comments

Add yours